Tampilkan postingan dengan label UNPAD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNPAD. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Januari 2014

Rusia Menanti ( Bag 6 )

Dalam Pesawat

Terbang perdana dalam sejarah hidupku, perjalanan panjang selama kurang lebih 8 jam saya serahkan semua keselamatan jiwaraga kepada sang pilot yang tidak ku kenal namanya yang akan mengendalikan pesawat ini ketempat tujuan. Saya duduk dikursi no 45D, area dibuntu pesawat kelas ekonomi. Disebelah kiri ku ibu-ibu berumur kurang lebih 40an. Terlihat jelas dari wajah si ibu bukanlah istri dari seorang penjabat negara yang sedang berlibur menghabiskan uang suami, tetapi penampilah hampir menyerupai. Si ibu adalah pekerja keras, jauh merantau ke negeri minyak untuk membeli berlian sebagai pembantu rumah tangga. Saya permisi untuk duduk disebelahnya, beliau dengan senyum mempersilahkan. Si ibu ingin pergi ke Dubai. Dalam percakapan kami, saya sedari awal pun sudah tau si ibu adalah TKI yang berasal dari jawa sana. Senang saya melihat ibu ini, dia bangga menjadi TKI, walau katanya harus kucing-kucingan dengan petugas keamanan dan harap-harap cemas. Saya tidak tau kenapa ibu ini harus cemas jika ibu ini membawa semua dokumen yang dibutuhkan untuk bekerja disana, ternyata benar ibu ini menjadi TKI ilegal, dengan bermodalkan penampilan yang sedikit wah, ternyata itu hanya kamuplase untuk mengelabui imigarsi. Tapi ya sudahlah, memang sudah jalannya seperti itu. Toh saypun tidak mempedulikannya. Pikiran saya masih menuju wanita yang mengantar ku kebandara. Ya istriku, baru beberapa jam kami berpisah tapi rasanya sudah lama sekali. saya tetap mengambil sikap cool dan berdoa dalam hati semoa semua akan berjalan dengan baik dan dimudahkan oleh Allah SWT. AAMIINNN!
Dari spiker pesawat terdengar suara seperti orang mengaji dan terakhir saya mengetahui suara itu adalah pemberitahuan dari seorang pramugari bahwanya pesawat kami akan lepas landas. Tidak lebih dan tidak kurang waktu yang tertera ditiket dan jam tangan ku persis jam 01:50 WIB. Perjalanan kami menghabiskan waktu kurang lebih 15 jam. Dengan rute yang sudah ditentukan jam 8 pagi kami akan tiba di Dubai, transit 2 jam lamanya, setelah itu kami akan menuju Rusia. Saya berdoa dalam hati semoga kami semua selamat dalam perjalanan ini, semoga pesawat yang membawa kami tidak mendarat di samudura pasifik. RUSIA AKU DATANG.

Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman pun sudah dimatikan, saya melihat dibelakang sebalah kanan ku ada kursi kosong, lalu saya meminta ijin kepada pramugari cantik untuk pindah kursi. Pramugari dalam pesawat ini rata-rata berwajah seperti kebanyakan dalam film timur tengah, tapi ada satu berwajah asia, saya sudah tau dia pasti orang vietnam, lalu dengan sok berbahasa ingris saya meminta ijin untuk pindah kursi, ternyata dia menjawab dengan bahasa ibu pertiwi. Salah dugaanku. Setelah itu saya menjoba untuk tidur, dengan dada yang sesak, saya tidak tau ini perasaan apa. Perasaan sedih karena meninggalakan keluarga atau demam eropa sudah merasukiku. Tak saya hiraukan, saya minum obat yang diberikan oleh istriku. Sebelum berangkat kebandara tadi dia memberikan obat tidur kepadaku. Sehingga setelah saya minum obat itu, selang 1 jam obat mulai bekerja, berat sekali mata ini dan saya pun terlelap dalam mimpi indah. 

Kamis, 14 November 2013

Rusia Menanti (Bag. 4)

1 minggu sebelum keberangkatan, saya dan teman-teman pergi untuk terakhir kalinya ke KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN untuk mencari tau informasi selanjutnya mengenai beasiswa kami. Karena sebelum itu saya mendengar kabar yang kurang baik terkait berkas-berkas yang telah lama saya serahkan untuk Beasiswa Unggulan. Dengar kabar burung berkas-berkas yang masuk untuk pengajuan beasiswa unggulan tahun ini khususnya Pelamar yang akan ke Rusia akan dilimpahkan ke Lembaga Pengelolah Dana Pendidikan (LPDP) dibawah Kementerian Keuangan. Saya pastikan berita itu, saya pergi ke Diknas dan bertemu dengan staf biro yang tidak bisa kusebutkan namanya, ya karena dia hanyalah bawahaan yang akan tunduk dengan atasan. Saya tidak terlalu puas dengan penjelasan staf itu terkait masalah pemindahan berkas dari Diknas ke LPDP terlalu mutar-mutar sehingga pusing sendiri dia untuk menjelaskannya.Tak sabar, aku langsung berhadapan dengan bos nya, yaitu pak abe, ya pak abe, yang menjadi pembicara di Institusi yang bernama SEAMOLEC. Ternyata sama saja jawaban yang Saya dapat. Beliau hanya mengatakan berkas-berkas yang masuk dari pelamar yang ke Rusia akan dilimpahkan ke LPDP atas perintah atasan. 

Karena terkait akan ada bantuan untuk mahasiswa/i yang ada di Rusia akan diberi bantuan oleh RI1, jadilah kami disatukan kedalamnya. Disini yang tak saya mengerti. Dari awal Saya dan teman-teman mengajukan untuk Beasiswa Unggulan yang itu hak setiap anak bangsa. Jika berkas-berkas kami dipindahkan ke LPDP sama saja kami tidak mengajukan beasiswa, karena LPDP memang akan memberi tambahan uang saku untuk para mahasiswa/i yang berada di Rusia, bukan memberikan beasiswa. Kenapa kami protes?ya jelas saja kami mengajukan beasiswa unggulan diknas dibawah bendera PBNU, karna itu kami meminta rekomendasi dari PBNU untuk mempercepat proses pendanaan tersebut. Besar harapan kami dengan surat itu beasiswa kami akan lebih cepat diproses. Bukan untuk dilepar kesana kemari seperti bola.

Pada akhirnya saya pun tidak bisa berbuat apa-apa dengan birokrasi ini. Indah memang birokrasi ini. Saya pun tidak memikirakannya, Saya serahkan semua kepada yang Maha esa. Saya bersama teman-teman sudah berusaha sampai 3 hari sebelum keberangkatan, belum juga mendapatkan penjelasan sama sekali. Karena waktu keberangkatan kami semakin dekat. Kami harus siapkan mental dan siap dengan kondisi apapun setelah sampai di Rusia nanti. Toh ini mimpi ku, apapun yang akan terjadi saya akan tetap berangkat. Jadi untuk sementara tidak ada kepastian tentang beasiswa aku pun meminta dana talangan sementara kepada mamaku untuk bekal disana dan sekali lagi kasih ibu kepada anaknya tak terhingga. Bagaimanapun kondisinya beliau tetap mengusahakan untuk anak tercintanya meraih mimpi.

Tugas kami tidak berhenti disana, masih banyak yang kami harus kerjakan. Kami pergi untuk membeli perlengkapan musim dingin. Kami beli penutup kepala, badan, tangan, dan kaki. Kami belanja di sebuah pusat perbelanjaan di daerah Sudirman, Jakarta. Mahal memang, tapi kami butuh, apa boleh buat tetap kami beli. Kami hanya membeli long jhon, karena itu yang murah disana. Selebihnya kami membeli perlengkapan di Pasar Pagi Mangga Dua. Saya tau disana ada satu toko yang menjual perlengkapan musim dingin yang sesuai dengan harga kantong. Lalu saya pergi dan memborong semua yang dibutuhkan dari atas kepala sampai bawah.

Selain keperluan musim dingin, mengingat makanan di negara kita jauh berbeda dengan makanan sana, aku juga mempersiapkan kebutuhan makan dan beberapa alat dapur yang pastinya lebih murah di sini bahkan tidak ditemukan di Rusia sana. Seperti bumbu-bumbu instan makanan khas Indonesia yang kita konsumsi sehari-hari, mie rebus indomie favorit, piring plastik, gelas plastik, dan lain-lain. Seperti belanja ibu rumah tangga untuk 1 bulan. Tetap aku harus memilah-milah untuk aku bawa ke sana, karena aku tidak bisa melawan peraturan maskapai yang memberikan jatah preman untuk bagasi sebanyak 30 KG.