Sudah
dua hari ini angin bersertakan butiran salju turun di Rostov, mungkin juga sama
dengan kota-kota lain di Rusia. Suhu udara semakin merosot bahkan hari ini saja
sudah minus 17’C dengan Feels Like mencapat minus 22’C. Butiran salju yang
turun dari 2 hari lalu membentuk seperti tumpukan pasir putih yang bergelombang
indah sekali. Terlihat seperti pada lukisan alam, dengan angin sebagai kuasnya menambah
keindahan goresan-goresan di permukaan tumpukan salju itu.
Aktivitas
hari ini berjalanan seperti biasa namun dengan keadaa seperti ini waktu berasa
melambat. Bagaimana tidak angin yang bertiup kencang membuat pejalan kaki
memasaang kuda-kuda agar tidak terdorong oleh angin, ketika angin melambat baru
lah mereka berjalan. Mobil-mobil di jalan pun begitu, tidak bisa memacu
kecepatan seperti biasa karena salju pun sudah menutupi jalan beraspal.
Mobil-mobil mewah dengan kualitas ban yang baik mungkin tidak masalah dengan
kondisi seperti ini, tapi mobil-mobil tua seperi volga atau mungkin mobil-mobil
yang tidak memiliki kualitas ban yang baik akan sangat sulit untuk melawit
tumpukan salju sehingga akan membuat antiran panjang di jalan.
Ini
pengalam pertama saya melihat cuaca kaya gini, Awesome! Pagi ini saya pergi ke
kampus dengan jarak antara asrama ke kampus kuliah bahasa sekitar 1 KM, kondisi
yang tak seperti biasa ini membuat jarak menjadi 3 KM. Kenapa seperti itu?
Angin kencang dan tumpukan salju yang akan memperlambat dan mempersulit jalan
sehingga seharusnya dengan kondisi biasa jalan kaki hanya menghabiskan waktu 15
menit, tapi dengan kondisi seperti ini saya harus menghabiskan waktu 30 menit
mungkin ini juga dapat membakar 500 kalori dalam tubuh saya.
Hari
ini saya ada kelas jam 10:15 waktu Rostov. Saya bangun jam 9 pagi lalu pergi untuk
mandi. Walau diluar dingin dan kebanyakan orang-orang Rusia atau mungkin
manusia yang ada di kota ini tidak terpikir untuk mandi karena memang tidak
penting atau mereka malas, tapi bagi saya mandi adalah wajib hukumnya ya wajib
untuk mandi 2 hari sekali. Sudah 2 hari ini saya pun menjadi warga lokal yang
malas untuk mandi, jadi saya putuskan untuk mandi hari ini. Setelah mandi saya
pun keringkan badan dan berpakaian. Seperti biasa saya sarapan dengan makanan
sisa selaman yang saya panaskan terlebih dahulu. Makaroni menjadi andalan
makanan untuk saya saat ini, karena memang simpel dan saya pun tidak punya
kemampuan untuk memasak yang lain, jadi pikirku yang terpenting itu kenyang
rasa adalah nomor 2 bahakan ke 3. Perut kenyang bandan wangi saya siap untuk menerjang
badai salju ini demi pendidikan, masa saya kalah dengan nenek tua yang pergi
kepasar untuk membeli bahan-bahan dapur dengan cuaca seperti ini. Stelan
pakaian hari ini harus disesuaikan dengan cuaca, jadi saya putuskan untuk
menggunakan long jhone atas setelah itu kaos tangan panjang, Jaket pertama lalu
ditambah jaket bulu angsa dan bagian bawah hanya longjon dan celana Jeans. Tak
lupa sarung tangan 2 lapis dan Kupluk untuk penutup kepala. Badan sayapun
menjadi 2 kali lipat besarnya. Semua sudah siap, saya ambil tas lalu pergi
keluar kamar tak lupa saya membaca Basmalah “ Bismillah Hirrahman Nirrahim”.
Saya
berjalan diatas tumpukan salju yang sudah menggunung, kira-kira kakiku terbenam
hingga sebetis. Saya hanya melihan kebawah memperhatikan langkahku, salah-salah
saya akan terperosok. Semua bagian tubuhku ini sudah tertutup rapat, sehingga
rasa dingin pun tidak saya rasakan. Tapi, setutup-tutupnya semua bagian tubuh
ada satu bagian yang tidak bisa saya tutup, yaitu muka. Saya tidak tahu dengan apa
saya menutup muka ini karena saya tidak memiliki kupluk yang seperti ninja,
jadi muka ini dicumbu habis-habisan oleh angin dingin. Saya tidak bisa
menuliskan bagaimana rasanya muka ini terkena angin dingin itu. Aneh, bukan
dingin atau terasa segar muka saya tapi muka berasa panas bercampur perih,
mungkin bisa dicontohkan taro muka anda diatas tumpukan es yang membeku di
dalam frizer kulkas rumah anda. Saya terus berjalan sekali-kali saya berjalan
mundur karena memang angin yang datang dari depan membuat muka perih bahkan
akan mendorong tubuh kebelakang, jadi memang harus dibutuhkan taktik yang jitu
jika tidak tubuh akan terdorong kebelakang bahkan bisa terjatuh. Namun jika
angin yang datang dari arah belakang itu sangat membatu, sehingga jalan kita menjadi
ringan, namun tidak semudah itu juga, dengan kondisi jalan yang licin saya
harus berhati-hati juga karena bisa terpeleset dan akhirnya terjatuh juga.
Serba salah memang dengan kondisi seperti ini.
Selangkah
demi selangkah akhirnya tibalah saya di tempat kuliah bahasa yang berjarak 1
km. Saya bersyukur tidak terjadi apa-apa, dengan napas yang masih ngos-ngosan
karena memang menghabiskan tenaga juga berjalan melewati salju yang sudah
selutut dan angin dingin yang sangat kencang seperti ini. Tapi setidaknya saya
bisa bernapas untuk 5 jam kedepan karena waktu kuliah dari jam 10:15 sampai
14:45.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar